Monday, 17 October 2016

Review Film: Wonderful Life




Sutradara               : Agus Makkie
Penulis Skenario   : Jenny Jusuf

Produser                : Angga Dwimas Sasongko, Handoko Hendroyono, Rio Dewanto

Pemain                   : Atiqah Hasiholan, Alex Abbad, Lydia Kandou, Sinyo



Film bergenre drama keluarga ini menceritakan tentang kehidupan seorang ibu tunggal bernama Amalia. Ia bekerja sebagai salah satu CEO di sebuah perusahaan periklanan di Jakarta. Lia memiliki seorang anak lelaki bernama Aqil, berusia 8 tahun yang sering bermasalah dengan pelajaran sekolahnya. Bersama Aqil, Lia tinggal juga dengan orang tuanya. Sang nenek sangat sayang pada Aqil. Namun sang kakek keberatan dengan kondisi Aqil yang disebutnya sebagai anak yang penyakitan.



Pada adegan-adegan awal ditunjukkan Aqil lebih tertarik pada pelajaran menggambar daripada pelajaran lainnya. Aqil juga kesulitan mempersepsikan beberapa huruf dan angka yang memiliki kemiripan bentuk. Beberapa kali wali kelas menyampaikan ketertinggalan pelajaran Aqil kepada ibunya. Aqil pun sering mendapatkan ejekan dari teman-temannya karena keadaannya. Amalia yang notabene seorang yang sangat perfeksionis tentu tidak dapat menerima begitu saja.


Amalia mendatangi beberapa psikolog untuk mengkonsultasikan keadaan Aqil. Hasil assesment menunjukkan bahwa Aqil adalah anak yang berkebutuhan khusus. Diagnosis tepatnya Aqil memiliki disleksia dan autis ringan. Amalia menolak. Baginya, Aqil hanya sakit dan pasti bisa disembuhkan. Berbekal keyakinan itulah akhirnya Amalia dan Aqil melakukan perjalanan panjang sampai ke pedalaman Jawa Tengah untuk mencari pengobatan alternatif untuk Aqil. Akankah Amalia bisa membuktikan keyakinannya? Akankah Aqil bisa disembuhkan? Silakan nonton di bioskop ya :)



Film ini diangkat dari buku dengan judul yang sama yang ditulis oleh Amalia Pertiwi. Awalnya saya sulit untuk tidak membandingan film ini dengan film dengan tema sejenis yang diproduksi oleh Bollywood, Taare Zameen Par. Namun belakangan saya menyadari bahwa fokus film ini bukanlah pada perasaan dan kondisi psikologis si anak. Fokus dari film ini adalah ibunya. Bagaimana pergolakan batin dan psikologis seorang ibu yang dipaksa menerima sebuah kenyataan bahwa anaknya berbeda. Atiqah Hasiholan begitu baik memerankan seorang ibu tunggal yang juga ibu bekerja harus membagi waktunya antara deadline pekerjaan dan kondisi anaknya yang berkebutuhan khusus. Latar belakang keluarga yang menuntutnya selalu menjadi yang terbaik pun menjadikannya memberikan target tinggi untuk prestasi anaknya. Sounds familiar, right?


Pun chemistry antara Atiqah dan Lidya Kandau yang berperan sebagai ibu Amalia juga terjalin apik. Tanpa perlu banyak dialog yang panjang-panjang, terasa sekali kedekatan mereka sebagai ibu dan anak. Perselisihan dan pertengkaran antara Amalia dan ayahnya juga terasa pas. Penggunaan kata ‘saya’ dalam percakapan keseharian mereka juga menunjukkan bahwa hubungan mereka tidak begitu dekat. 





Hal yang saya nantikan di film ini adalah bagaimana hubungan Aqil dan ayahnya yang sayangnya hingga film berakhir tidak diceritakan bagaimana koneksi tersebut. Kemudian kemampuan akting Sinyo, sebagai pemeran Aqil belum terlihat menonjol. Mungkin karena film ini adalah debut pertamanya. Karakter kurang pas ditunjukkan pula oleh tokoh Aga (diperankan oleh Alex Abbad) sebagai partner kerja Amalia. Entah kenapa, saya merasa peran Aga di film ini tidak terlalu penting tapi memakan porsi yang cukup besar. Hal yang cukup menganggu berikutnya adalah dua orang penarik perahu di pedalaman Jawa Tengah yang memberikan porsi kelucuan yang terkesan hanya tempelan semata. Dan gong yang paling ajaib bagi saya adalah kemunculan pesan bahwa setiap anak terlahir sempurna yang disampaikan oleh seorang herbalis yang diperankan oleh Didik Nini Thowok yang begitu terasa dipaksakan.


Terlepas dari segala kekurangannya, film ini layak untuk ditonton oleh seluruh anggota keluarga. Film ini memberi gambaran tentang gejala umum disleksia. Film ini mengajarkan kita bahwa semua yang diciptakan Tuhan tidak ada yang sia-sia. Bahwa setiap anak terlahir sempurna, apapun keadaannya. 



Untuk saya pribadi, setelah menonton film ini kemudian saya tertarik pada bukunya. Ide yang baik untuk mengikuti lebih lanjut tentang kisah Aqil dan Amalia dalam Wonderful Life-nya mereka :)


Sebagai tambahan ini dia official trailer dari film Wonderful Life.




Selamat menonton ya!

saya sudah nonton lho, kamu kapan?

   

4 comments:

  1. Tajam dan krtis mba flo review nya :) seneng yaa bisa nobar bareng :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pisau kali ah mbak, tajam :p
      Iyaa.. Semoga kapan-kapan bisa nobar lagi yaa.. ^^

      Delete
  2. Recommended ya film ini utk tau lebih jauh gambaran ttg disleksia.

    ReplyDelete
  3. Setuju banget Flo, kalo film ini layak jadi tontonan keluarga. Agar makin banyak orang yang tahu pentingnya mendengar keinginan anak.

    ReplyDelete