Thursday, 8 October 2015

Menikmati Pesisir Semarang di Masa Depan



Banjir di Semarang
 
Semarang kaline banjir
Jo sumelang rak dipikir 
Jangkrik upo sobo ning tonggo
Melumpat ning tengah jogan...



Siapa yang tidak kenal dengan penggalan lagu diatas. Alunan musik khas campursari begitu kental terasa. Iya, penggalan lagu “Jangkrik Genggong” yang didendangkan secara legendaris oleh Waljinah ini begitu terkenal di kalangan masyarakat Jawa. Pun dengan saya. Sebagai anak yang lahir dan besar di tanah Jawa, lagu ini tentu saja begitu akrab di telinga sejak kecil. Semarang ki yo mesti banjir kaline, Semarang identik dengan banjir. Begitulah imajinasi masa kecil saya tentang Semarang.


Sampai sekitar 20 tahun kemudian, takdir membawa saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di kota Semarang.  Ternyata apa yang digambarkan oleh lagu diatas bukanlah isapan jempol belaka. Saya mengalami sendiri betapa mengagetkannya banjir terutama di kawasan pesisir Semarang. Bahkan untuk kembali dari kantor auditee di wilayah pelabuhan Tanjung Emas, kami harus naik becak. Genangan banjirnya terlalu tinggi untuk dilewati mobil. Yah, mirip-mirip sama gambar di atas lah kira-kira. hehe


Semarang yang merupakan ibukota propinsi Jawa Tengah terletak di pesisir utara pulau Jawa. Kota Semarang memang memiliki kontur yang menarik. Wilayah Kota Semarang berada pada ketinggian antara 0 sampai dengan 348,00 meter dpl (di atas permukaan air laut). Secara topografi terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan, sehingga memiliki wilayah yang disebut sebagai kota bawah dan kota atas.



 

Sebagaimana kota pesisir pada umumnya, wilayah Semarang terbentuk dari endapan aluvial. Adapun karakteristik dari endapan aluvial ini adalah tanahnya masih mengalami proses konsolidasi. Proses konsolidasi ini mengakibatkan terjadinya penurunan muka tanah pada daerah tersebut. Hal ini yang menyebabkan setiap tahun Semarang dilanda banjir rob. Sebenarnya bahaya banjir rob ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Semenjak zaman penjajahan, pemerintah kolonial Belanda sudah mengantisipasi banjir rob ini dengan membangun kanal dan polder. Salah satunya yang kita kenal sebagai polder di depan stasiun Tawang.






Polder Tawang ini terutama ditujukan untuk menyelamatkan kawasan Kota Lama Semarang. Kanal-kanal yang dibangun di sekitar kota lama berfungsi sebagai sistem drainase yang akan mengalirkan air banjir dan rob di kawasan Kota Lama, memompanya kemudian mengalirkannya kembali ke lautan.





Lain polder di kawasan kota lama, lain pula pembangunan Banjir kanal Barat. Banjir kanal barat ini ditujukan untuk mengatasi banjir yang diakibatkan oleh curah hujan. Hal yang perlu dilanjutkan adalah mengoptimalkan penggunaan dan pengawasan kanal dan polder di wilayah Semarang. Penggunaan juga sepaket dengan perawatan tentu saja. Pengerukan dan pembersihan secara berkala, sehingga kelak ketika musim hujan tiba polder dan kanal tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.



 

Selain polder, pengembangan hutan mangrove di kawasan pesisir juga perlu perhatian lebih serius. Akan sangat baik apabila ditangani secara bersama antara pemerintah kota, pihak swasta dan merangkul masyarakat. Tidak dapat dinafikan bahwa peran hutan mangrove sangat penting bagi kawasan pesisir.



Mangrove dapat mengurangi abrasi dan erosi pantai akibat air laut. Fungsi selanjutnya adalah akar-akar bakau yang mampu mengendapkan lumpur sehingga mencegah intrusi atau merembesnya air laut ke darat. Perembesan ini dapat mengakibatkan berubahnya air daratan menjadi payau sehingga tidak cocok untuk dikonsumsi. Akar tersebut juga dapat mempercepat penguraian limbah organik yang terbawa ke wilayah pantai. Selain pengurai limbah organik, hutan mangrove juga dapat membantu mempercepat proses penguraian bahan kimia yang mencemari laut seperti minyak dan deterjen, serta merupakan penghalang alami terhadap angin laut yang kencang pada musim tertentu.



Hutan Mangrove juga merupakan tempat tinggal yang cocok bagi banyak hewan mulai biawak, kura-kura, monyet, burung, ular, sampai beberapa jenis hewan laut seperti ikan, udang, kepiting dan siput. Hutan mangrove seringkali dikatakan pembentuk daratan karena endapan dan tanah yang ditahannya menumbuhkan perkembangan garis pantai dari waktu ke waktu. Pertumbuhan mangrove memperluas batas pantai dan memberikan kesempatan bagi tumbuhan terestrial hidup dan berkembang di wilayah daratan.



Manfaat lainnya adalah pengembangan kawasan mangrove sebagai kawasan ecowisata. Menambah kawasan terbuka hijau yang dapat dijadikan sebagai tujuan wisata sekaligus sarana belajar bagi masyarakat kota Semarang dan sekitarnya.



Penyebab banjir rob, yaitu penurunan tanah juga adalah permasalahan tersendiri di kawasan pesisir pantai. Selain karena penurunan tanah adalah inherent risk dari wilayah pesisir, hal ini diperparah juga oleh penggunaan air tanah yang kurang bijak. Kawasan pesisir utara Semarang didominasi oleh wilayah industri dan pergudangan Tanjung Emas. Pemerintah kota bekerja sama dengan pihak BUMN dan swasta harus menyadari dan bekerja sama demi mengatasi permasalahan ini. Pemerintah kota perlu menekankan pengaturan yang lebih baik terkait dengan penggunaan air tanah dan wilayah hijau sebagai bantuan resapan air di kawasan industri.





Hal lain yang perlu diperhatikan dari kawasan pesisir Semarang adalah permasalahan pemukiman. Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas di daerah pesisir mendorong adanya reklamasi pantai untuk pemukiman dan industri misalnya. Merambahnya pembangunan ke wilayah pesisir menyebabkan adanya “pemaksaan”, dalam hal ini terkait dengan adanya pemanfaatan ruang yang tidak seharusnya ada tetapi dipaksakan ada, dan akhirnya berdampak pada terganggunya keberlanjutan pembangunan dan timbulnya penyimpangan pemanfaatan ruang. Namun sampai saat ini belum ada peraturan atau kebijakan tegas yang mengatur tentang pengendalian pemanfaatan ruang pada wilayah pesisir, padahal akibat yang dirasakan dari rusaknya wilayah pesisir baik fisik ataupun sumberdayanya sudah cukup jelas. Perubahan penggunaan lahan di wilayah pantai yang dulu secara alami dapat menampung pasang air laut telah berubah menjadi lahan pemukiman, kawasan industri dan pemanfaatan lainnya.



Pemerintah kota Semarang tidak perlu sampai menggusur pemukiman penduduk di kawasan pesisir yang telah ada. Hal yang perlu dilakukan adalah membatasi dan mengatur keberadaan mereka, serta sekaligus merangkul penduduk yang bermukim di pesisir untuk ikut merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap penggunaan lahan wilayah pesisir. Kesadaran mereka terkait sanitasi dan sampah, misalnya. Pihak-pihak terkait perlu memberikan banyak pengertian dan contoh cara menjaga lingkungan pesisir di sekitar tempat tinggal mereka. Karena dengan terkendalinya sistem pembuangan sampah dan sanitasi juga berpengaruh positif bagi kelestarian alam wilayah pesisir.



Perjalanan menuju Semarang Tangguh memang masih sangat panjang. Perjuangan ini tidak pernah berhasil apabila tidak didukung oleh seluruh stakeholder kota Semarang, baik dari pemerintah kota, pemerintah propinsi, pihak swasta, LSM hingga masyarakat secara umum. Kesadaran akan kebutuhan kota Semarang yang lebih manusiawi, lebih tertata dan lebih teratur sudah selayaknya ditanamkan menjadi kebutuhan bagi seluruh pihak yang mencintai Semarang.






Kemudian terbayang di benak saya di masa mendatang ketika Semarang telah menjelma menjadi kota yang bersih, cantik dan teratur. Kawasan pesisir bukan lagi identik dengan banjir dan kumuh, namun telah menjadi kawasan hijau terbuka yang asri dan bersih. Kanal-kanal dan polder yang ada di Semarang telah diatur dengan baik, kanal dan polder tersebut dapat menjadi ikon kota Semarang. Berwisata kano dan sampan di sepanjang kanal atau polder seperti yang selama ini kita lihat di Belanda atau Venesia, menjadi bukan hal yang mustahil ada di Semarang, Venice van Java!   







Sumber:
http://geodesi.undip.ac.id/gis/download_penunjang.php?id=1
Maiyudi, Riko. Studi Penyebab dan Identifikasi Dampak Penurunan Tanah di Wilayah Semarang. Tugas Akhir. Bandung: 2012
http://earthhour.wwf.or.id/5-manfaat-hutan-mangrove-untuk-manusia/
Bappeda.semarangkota.go.id
http://tarilembayung.blogspot.co.id/2013/05/fenomena-rob-di-semarang-dalam.html
https://auliarizqiabidi.files.wordpress.com/2012/05/5-35.jpg


No comments:

Post a Comment