Sunday, 4 October 2015

Berkunjung ke Pabrik Gula, Pesiar ke Masa Lalu

Lokomotif  di depan PG
Saya bersorak riang begitu tau kalo saya masuk tim Kebon. Tim yang bertugas mengaudit BUMN perkebunan. Saat itu saya sudah nyaris memfosil karena kelamaan nugas di hotel ***** yang ada di seberangnya Rawon Setan. Begitu dapet tawaran nugas ke kebon, tanpa pikir panjang saya langsung bilang: IYA!
Lumayan banget yah, bisa halan-halan herates ke luar kota selama 2 minggu. Saya sih sudah super eneg sama Surabaya. Butuh menghirup udara segar. Butuh ngeliat gunung dan pantai. Butuh nyeburin kaki di air bareng sama ikan-ikan. Butuh nyemplung laut. Butuh mainan pasir. Mbaknya butuh liburan? Bangeeeettt..!
Tapi kan ini penugasan? Iya sih, tapi bodo ah. Saya cuma butuh melepaskan diri dari rutinitas di Surabaya. Saya mau jalan-jalan ke luar kota. Apapun alasannya.

Artdeco Dimana-mana

 
salah satu pohon rindang di halaman kompleks PG

Wow!
Saya melongo. Mata saya berbinar-binar. Memasuki kompleks perumahan pegawai pabrik gula yang khas. Rumah-rumah dengan halaman yang luas, pilar-pilar di teras depan, pohon beringin dan trembesi yang kokoh menghiasi halaman. Mendadak saya bermetamorfosis menjadi nonik Belanda. Nonik Belanda cantik berkereta kuda, dengan gaun princess mengembang dan sepatu Cinderella.

“ Mbak, ini semua kopernya di bawa masuk juga?!” Teriak seorang pria paruh baya di belakang.

Duh! 
Teriakan yang mengubah wujud nonik belanda yang cantik balik lagi jadi upik abu. Kembali dengan jeans dan kets buluk lengkap dengan blus sebawah lutut dan ransel kura-kura ninja yang menemani semenjak dari Surabaya tadi subuh. Ngga asik banget sih pak supir. Saya kan lagi seru ngayalnya. Saya kan blom ketemu sama mas sinyo ganteng yang nungguin di balik pintu. Ya kan? *Ngarep..-__-‘

Saya yang sudah sehat walafiat dan sudah kembali ke alam kesadaran, manyun sambil menggeret koper besar dan berat berisi odner-odner audit tahun lalu. Tapi manyun saya tidak bertahan lama. Pesona bangunan kolonial di depan mata ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.

Saya masih mengagumi bentuk bangunan megah bergaya artdeco ini dengan seksama dan memegangi salah satu pilar besarnya ketika seseorang membuka pintu depan.
Yah… saya kecewa.
Bukan mas sinyo ganteng ternyata!
Melainkan seorang penjaga rumah yang ramah memamerkan senyum bersahajanya dan mempersilakan kami masuk.

Dari dalam rumah saya makin mendalami bentuk bangunan rumah tinggal ini. Ruangan tamu yang cukup luas, dengan perabot khas tempo dulu. Meski bukan dari jaman Belanda juga sih. Tapi bangunan utama dari rumah ini masih mempertahankan ciri-ciri bangunan aslinya. Dindingnya yang tebal dan kokoh, kusen pintu dan jendela yang didesain tinggi dan lebar, kaca hias dengan berbagai ornamen permainan warna, juga warna cat rumahnya. Bahkan di kamar yang disediakan untuk kami yang ekstra luas, saya bisa dengan leluasa duduk di dinding tebal tempat kusen jendela dipasang rendah. Menikmati hujan sambil duduk-duduk dikusen ini kayaknya asik juga. Galau-galau-syahdu-mendayu gitu deh yaa.. :p 

Contoh rumah mess pegawai PG
 
Bangunan rumah ini terdiri dari bangunan utama atau bangunan induk, tempat kamar kami, ruang tamu dan ruang makan. Disambung dengan selasar yang dikelilingi dapur, kamar-kamar yang lain, dan ruang setrika. Ditengah ada taman tengah yang cukup asri dan kamar mandi luar. Meskipun ada kamar mandi luar, masing-masing kamar juga sudah disediakan kamar mandi dalam. Di bagian belakang rumah ada berjejer-jejer kamar tidur penjaga dan tempat cuci dan jemur. Juga halaman luas dengan pohon mangga dan trembesi yang rindang. Rumah ini cukup mewakili gambaran standar fasilitas para pegawai golongan atas di pabrik gula di masa pendudukan kolonial. Fasilitas yang tentu jauh lebih mewah jika dibandingkan dengan kebanyakan rakyat jelata di masa itu.

Sudut bangunan cantik yang sayangnya kurang terawat

1890.

Angka tahun ini ada di bagian atas sisi depan bangunan kantor di Pabrik Gula (PG) Redjosarie di kawasan Magetan Jawa Timur. Menurut keterangan dokumen perusahaan, pabrik ini dibangun di tahun tersebut, 1890.
Gilak! 124 tahun. Dan masih kokoh!

Ada beberapa bangunan yang memang sudah mengalami renovasi di sana-sini, namun tetap tidak mengubah bangunan asli yang sudah ada sejak jaman Belanda. Saya kagum lho sama bangunan-bangunan jaman dulu gitu. Betapa awet dan kokohnya mereka. Apa coba alasannya? Semen yang lebih berkualitas kah? Batu bata yang lebih kuat, atau justru ahli konstruksinya yang juwara?

Selain di rumah dinas, kesan art deco yang kuat justru lebih banyak ada di bangunan PG. Selain bangunan kantor, bangunan pabrik tempat pengolahan juga tidak kalah eksotis. Tetap dengan ciri khas bangunan yang tinggi dan kuat. Dengan kusen-kusen gaya lengkung yang khas. Meskipun bangunan itu adalah gudang pupuk sekalipun. Teteup, eksotis! Me like it!!!

Ada satu lagi yang sangat saya suka setiap kali plant tour keliling PG. Kereta uap dan lori. Kereta dan lori memang tidak bisa dipisahkan dari PG. Pada masa kolonial, kereta dan lori digunakan sebagai alat transportasi utama yang selain dipakai untuk mengangkut tumpukan tebu juga untuk meninjau dan memantau ladang atau sawah milih pabrik atau milik rakyat. Namun saat ini, kereta dan lori sudah banyak yang digantikan dengan alat transportasi lain yang lebih ekonomis dan efisien, truk dan mobil bak terbuka lain misalnya. Untungnya, meskipun sudah bukan menjadi moda pengangkutan utama, lokomotif dan kereta lori ini masih dipakai di sekitar lokasi pabrik. Dilestarikan dong..
Biasanya loko dan lori ini dipakai untuk mengangkut antrian tebu yang sudah ditimbang dan masuk ke kawasan pabrik. Antri untuk masuk ke penggilingan. Minta digiling!  

Potongan kucel tapi bahagia. Habis plant tour.

Bangunan-bangunan itu, lokomotif kereta uap, dan semua-semua yang ada di pabrik gula seolah membetot seluruh perhatian saya, melemparkan saya pada ratusan tahun yang lalu, saat dimana pabrik gula menjadi roda penggerak utama perekonomian. Saat dimana para penguasa gula itu menjadi raja kecil dengan wilayah kekuasaan berbanding lurus dengan luas ladang tebu yang dimilikinya. Saya seperti melihat pabrik gula tempat Sanikem menghabiskan masa mudanya menjadi gundik Tuan Malemma. Pabrik Gula dan semua bangunan art deco yang mengelilinginya benar-benar membuat saya tersedot ke dalam Bumi Manusia milik Pram. Terjebak disana. Namun anehnya, saya menikmatinya.
      
Dari Kebun Bibit sampai Gudang Gula
Tebu yang diproses di pabrik gula ternyata bukan semata-mata milik dari PG itu lho. Tebu itu terdiri dari Tebu Sendiri (TS) dan Tebu Rakyat (TR). Tebu Rakyat adalah tebu yang dibeli pihak PG saat tebu sudah siap panen. Sedangkan tebu sendiri, adalah tebu yang ditanam di kebun milik PG. Dirawat dari kecil dengan penuh kasih sayang, seperti anak sendiri. Namanya Malika. *kok jadi kayak iklan:p   
Tebu yang sudah siap olah, yang sudah ditebang segera dibersihkan dari kulit-kulit kasar yang menempel di batangnya. Jangan bayangin bersihinnya pake sabit atau parang yah, pake mesin lho..!

Bekas jalur lori



Tebu tersebut lalu masuk ke stasiun gilingan. Ada takaran tertentu untuk jumlah tebu yang masuk ke mesin giling. Tentu saja disesuaikan dengan kapasitas mesin gilingnya. Tebu yang sudah digiling akan menghasilkan cairan manis yang disebut sebagai nira. Cairan inilah yang akan diolah di stasiun pemurnian nira. Nira yang sudah siap diolah akan dimasak di tanur besar dengan suhu yang tinggi. Proses memasak nira ini ada di stasiun masakan. Nira yang sudah masak mengalami proses kristalisasi. Hasil dari proses kristalisasi ini adalah gula pasir seperti yang sering kita temui, namun dengan bentuk yang lebih lengket dan berair. Dan, ngana jangan sekali-sekali mencoba nyolek pake tangan yak. Panas bok!

suasana di stasiun masakan

Gula yang masih berair itu mengalami proses yang berulang lagi dari awal sampai menghasilkan jenis gula yang kering dan kepyar sempurna. Gula yang kering dan tidak menggumpal adalah kriteria hasil produksi gula yang baik. Rasanya? Maniiissss kayak saya. Di proses bagian ini gula sudah sudah siap dikemas. Sudah bisa juga diicip kalo ada yang pengen ngincip. Saya yang bolak balik nyolek icip-icip sampe mau dibawain kopi dan air panas. Sayangnya Cuma becanda doang, padahal saya sudah mau lho diseriusin. Ah, lagi-lagi, PHP! :’(

numpang nampang boleh ya..


Namapun pabrik gula yah, pasti produk utamanya gula. Tappi.. selain gula ada lagi lho produk lainnya. Pernah denger tetes tebu? Yup. Dialah bahan utama pembuatan vetsin dan alkohol. Tetes adalah by product dari pabrik gula. Bentuknya tetes tebu kayak apaan sih? Coba tebaak… !?

Seindah tetes embun di pucuk-pucuk daun saat pagi menjelang.

Begitu? Sama! Saya juga mikir dan ngebayanginnya gitu.
Tapi ternyataaaaa, SALAH sodara-sodara!
Jauuuuuuhhh banget. Sejauh saya dan dirinya. Saya di Surabaya dan dia di masa lalu *halah….-__-“

Tetes yang ini bentuknya kayak pasta, warnanya cokelat kehitaman, kental dan pekat. Bau nya manis dan gurih. Kayak bau kecap. Rasanya? Hehehe, saya ga tega ngincipnya:D

Tetes embun, eh tebu

Tetes tebu biasanya disimpan di tangki tetes yang tinggi besar mirip dengan tangki bahan bakar. Selain di tangki, ada beberapa PG yang menyediakan kolam penampungan tangki yang biasa disebut sebagai jedhingan.  

tangki tetes

 
jedhingan

Kolam penampungan ini dipakai saat kapasitas tangki sudah tidak mampu menampung tetes. Produksi tetes meningkat seiring dengan jumlah tebu yang digiling pada setiap musim gilingnya.
Lain tetes tebu, lain lagi dengan blotong. Apalagi itu? Kotoran sapi? Bukan! Meski nama dan bentuknya mirip sih.. Blotong adalah limbah padat pabrik gula. Warnanya hitam dan berbau busuk. Meskipun begitu, jangan dikira blotong ini akan dicampakkan begitu saja. Blotong sering jadi bahan rebutan warga sekitar PG untuk dijadikan pupuk untuk sawah atau ladang. Blotong juga bisa dipakai sebagai media tanam jamur buatan. Bahkan blotong yang kering bisa diolah menjadi briket blotong untuk bahan bakar rumah tangga maupun industri. Keren kan si Blo?!
So, never judge a girl by her smell! #eh
    
Intangible Asset (asset tak berwujud)
“Ati-ati yah, kalo nugas ke Purwodadi, jangan suka ngeliatin lukisan yang di ruang tamu. Itu ada penghuninya..”
“Kalo kamu ke Pagottan, jangan mau dikasih kamar no 2. Itu paling ‘panas’. Pokoknya minta pindah aja..”
“Anak cewek sih nggak mungkin dikasih tugas ke wilayah tengah. Apalagi Olean. Disitu itu tempat ngumpulnya. Pusat yang paling sangar..”
“Kamu mau nugas ke Kebon yah, Flo? Udah apal ayat kursi kan?..”
“Udah packing? Jangan sampe lupa bawa Al Qur’an!..”

Pesan-pesan para senior itu berjejal-jejal masuk ke otak saya pas saya yang waktu itu masih junior baru yang polos, imut dan unyu-unyu mau berangkat untuk pertama kalinya nugas ke kebon. Heboh bener.
Sudah menjadi rahasia umum kalo nugas di kebon memang anak-anak auditor suka diliatin hal-hal yang aneh. Mulai dari diajak kenalan bule siang-siang. Padahal lagi ga ada tamu bule yang datang ke pabrik. Semacam gempa lokal yang cuma kejadian di kamar tertentu. Ketemu mbok-mbok emban berkemben lagi jalan di selasar lorong. Sampe penjaga rumah yang suka nongkrong di bawah pohon di belakang rumah. Eh, pas ditanyain ternyata sosok aslinya lagi tidur kemulan sarung di kamarnya. Hiiiyyyy…..

Intangible asset yang ini sering banget dibahas sama anak-anak. Apalagi kalo yang baru pertama kali nugas ke kebon, pasti obrolan tentang yang satu ini jadi pokok bahasan utama. Finding mah urusan belakangan. Eh, tapi ini kan juga termasuk finding. Hohoho:D

Apapun sih, mereka kan memang juga makhluk Allah. Kita yakin mereka ada. Mereka juga punya dunia dan alam sendiri. Selama kita nggak mengusik mereka, mereka juga nggak akan mengusik kita. Biarin aja, cuekin aja.

Trus, pernahkah saya ketemu kejadian-kejadian aneh? Alhamdulillah, pernah. Huhuhu :(

Jadi kami berempat sedang audit di sebuah PG di wilayah Madiun. Kami menempati rumah dinas hanya berempat. Dua cewe tidur di kamar depan. Dua cowo tidur di kamar belakang. Sekitar pukul 3 pagi saya kebangun. Saya ngelirik ranjang sebelah tempat temen saya, lagi pules tidur. Saya mau bangun buat wudhu, tiba-tiba ….. BRAAAAAKKKK…..!
Refleks saya nengok, saya pikir pintu kamar kebuka, karena emang ga dikunci dan dua cowo yang dibelakang itu isengnya ga ketulungan. Ternyata nggak. Yang kebuka adalah… pintu lemari!
Padahal siangnya pas saya mau ambil mukena, pintu lemarinya berat. Rasanya nggak mungkin kalo kebuka karena ketiup angin. Lagian angin darimana coba? Pintu jendela ketutup semua. Whaaaaa….. saya buru-buru nyungsep ke selimut lagi. Baca-baca ayat kursi sebanyak-banyaknya sampe ketiduran lagi.
Paginya, kami kebangun karena ada AC yang nyala sendiri. Padahal jelas-jelas remote nya ada di tempatnya nempel di tembok.
Dobel whaaaaa…..!!!!!
 
Warisan dari Masa Kolonial yang (Tak lagi) Feodal
Berbicara tentang pabrik gula tentu tidak bisa terlepas dari tahun-tahun akhir PD I dimana banyak Negara peserta perang yang mengalami kebangkrutan. Untuk mengatasinya, Negara-negara peserta perang itu melakukan pengerukan sebesar-besarnya pada tanah jajahan mereka masing-masing. Tidak terkecuali Belanda. Negara ini kemudian membangun pabrik gula di hindia belanda untuk mengolah hasil perkebunan tebu. Tentu hasil penjualan ekspor gula jauh lebih menguntungkan daripada apabila di ekspor dalam bentuk tebu. Selama masa kolonial belanda, para tuan tanah ini menjelma menjadi raja kecil dengan kekuasaan penuh terhadap wilayah yang mereka kuasai. Raja kecil yang berkuasa ini mulai sewenang-wenang terhadap para petani tebu dan buruh penggarap tebu. Feodalisme berkembang pesat. Siapa yang menjadi pucuk pimpinan di pabrik gula maka dialah raja yang semua keinginannya wajib terpenuhi. Coba deh baca buku Max Havelaar-nya Multatuli atau ada juga narasinya di Anak Semua Bangsa punya Eyang Pram.

Memasuki awal masa kemerdekaan, banyak pabrik gula baik milik pemerintah kolonial maupun milik swasta yang akhirnya dinasionalisasi. Namun, budaya warisan dari jaman penjajahan masih tetap bertahan hingga kini. Memang tidak mudah mengubah sebuah budaya.

Dalam istilah hierarki jabatan di pabrik gula misalnya. Istilah-istilah yang dipakai masih istilah warisan kolonial. Administratur (Adm) untuk kepala PG, CA untuk kepala tanaman dan lain sebagainya. Namun, seiring dengan modernisasi yang dilakukan, budaya kerja yang dibangun sudah bukan lagi seperti budaya kerja masa kolonial. Anggapan bahwa Adm adalah raja yang semua permintaannya harus dituruti sudah tidak berlaku disini. Adm bertugas sama seperti General Manajer atau Kepala Kantor Cabang di perusahaan lain.  
Meski begitu, saya pribadi berharap sebaiknya istilah-istilah penyebutan tersebut tidak perlu diganti. Karena hal itu yang menjadikan PGberbeda dan tentu saja, istimewa.

1 comment:

  1. siiiipp ... orang asli PG blm tentu bisa bikin diskripsi seperti ini, jempol ...

    ReplyDelete