Sunday, 13 September 2015

Monggo Tindak Trenggalek: Trenggalek, Kota-Berteman-Hati ku yang Tercinta


 
alun-alun Trenggalek 




Pro sederek monggo tindak Trenggalek
Kutho cilik pabrike tempe kripik
Alen-alen wis ana wiwit biyen
Uga jajan warna-warna camilan...

Ah, begitu banyak kenangan tentang kota ini. Betapa tidak,  lahir dan menghabiskan masa kecil hingga dewasa di kota ini adalah takdir indah yang sudah Tuhan beri. Setiap sudutnya punya catatan cerita tersendiri. Begitu emosional dan sentimentil.
Tempe kripik dan alen-alen. Salah satu jenis makanan khasnya. Lidah dijamin bergoyang karena rasanya yang tidak mudah dilupa. Rasa daun jeruk yang kuat dalam setiap gigitan tempe kripik dan renyahnya alen-alen berwarna kuning terang. Tenang, pewarnanya dari bahan alami, tanpa pengawet tentu saja.


Apa maneh kembang cengkeh sik akeh
Wohe duren yen panen ora leren
Uga salak yen panen pancen mrajak
Pari jagung dele ne ledhung-ledhung...

Trenggalek adalah kota pertanian. Segala macam tanaman tumbuh ditanahnya yang subur. Cengkeh misalnya. Pada masa orde baru, kebun cengkeh tersebar hampir di seluruh wilayah Trenggalek. Masa itu adalah masa dimana petani cengkeh begitu makmur.
Durian dan salak menjadi salah satu produk buah yang terkenal di Trenggalek. Durian yang memesona dengan daging buah yang tebal dan rasa serta aroma yang kuat. Satu kata untuknya, nikmat!
Sejauh mata memandang, kota Trenggalek dikelilingi gunung, sawah dan ladang. Padi, jagung, kedelei semua tumbuh subur disini. Hey, tanah ini benar-benar kaya Bung!

Guo lowo papan pariwisata
Kang manggone ana ing watulima
Pantai Pelang endahe pancen kondang
Pantai Prigi bisa andudut ati

Pecinta wisata? Kotaku surganya. Ada Gua Lowo (Gua Kelelawar) yang adalah gua terpanjang di Asia Tenggara. Tak perlu kau ragukan pesonanya. Pantai Prigi dan Pelang hanya sebagian kecil dari pantai-pantai indah di Trenggalek. Sebagian besar pantainya masih perawan, belum tersentuh eksploitasi berlebihan sebagai dampak modernitas. Begitu menggoda untuk dijajaki.

Wayah sore tindak o alun-alun
Katon rame endahe gawe gumun
Muda mudi akeh sing padha ngumpul
Nanging aja banjur terus ngelantur.

Kini, kota tercinta itu memanggil kita, anak-anak yang lahir dari rahimnya untuk kembali. Kota berjuta potensi itu menunggu kita untuk berkumpul kembali. Di bawah rindangnya pohon di alun-alun. Seperti saat dahulu kala. Saat kita masih kanak-kanak dan remaja. Menggambarkan mimpi-mimpi kita disana.
Kini, kota tercinta itu memanggil kita, untuk membangunnya. Membuatnya menjadi semakin istimewa. Mari, kita sambut panggilannya. Dengan penuh semangat dan cinta.  

No comments:

Post a Comment