Wednesday, 26 March 2014

BAB 1



BEAUTIFUL WALLFLOWER
BAB 1


Pemberitahuan bahwa pesawat akan landing darurat di bandara Ngurah Rai Denpasar yang beberapa menit yang lalu diumumkan oleh flight attendant cantik itu membuatnya mendengus. Kerinduannya yang mendalam pada foto yang sedari tadi dipandanginya harus diurungkan sejenak. Disimpannya foto itu ditempat yang rapi di sampul buku agenda yang sedari tadi digenggamnya. Memasukannya ke dalam tas ransel mungil warna putih yang ada dipangkuannya.

pict from here

Pandangannya menyapu sisi depan cabin pesawat yang ditumpanginya. Pandangannya terhenti pada penumpang dua baris didepannya. Seorang ibu yang memangku anak kecil sambil membaca katalog yang ada di bangku pesawat. Anak gadis kecil yang lucu, rambut tipisnya yang berombak diikat keatas, selaksa ada pohon kelapa bonsai diatas kepalanya. Pipinya gembil, putih mengingatkannya pada kue bakpao yang sering mangkal di dekat sekolah, yang dulu sering dibelinya tiap sore saat masih kecil. Kaki mungilnya dibungkus kaus kaki pink bermotif polkadot dengan renda-renda warna senada dan pita-pita. Sepatu merahnya semakin membuat tampilan anak kecil itu makin imut. Makin menggemaskan. Kaki-kaki mungil itu tidak berhenti bergoyang-goyang sambil terdengar celoteh-celotehannya yang lucu meski dengan kata-kata yang tidak jelas. Betapa menggemaskannya.
“Ternyata gunung Kelud lebih galak dari yang saya perkirakan..”
Ujar bapak-bapak yang duduk disamping gadis itu membuyarkan perhatiannya dari si kecil bersepatu merah. Sudah sejak tadi bapak itu mendiamkannya karena asyik dengan surat kabarnya.
“oiya pak?” ujar si gadis pendek.
“iya, pesawat ini landing darurat ke Denpasar juga karena hujan abu gunung Kelud menutupi jarak pandang di Juanda. Jadi ya terima nasib saja, terdampar di Ngurah Rai..”
Gadis itu tersenyum miris. Ternyata Gunung Kelud yang meletus 2 hari yang lalu abu nya pun masih meninggalkan jejak. Gadis itu sejenak menutup kedua kelopak matanya, kembali berdoa agar tidak ada letusan susulan, agar semua korban diberikan kesabaran dan kekuatan. Padahal belum lama dari terakhir kali gadis itu mendaki gunung Kelud. Sekitar 3 bulan yang lalu. Saat teman-temannya di komunitas mengajaknya ke Kelud sebelum mereka lanjut ke Pantai Klayar di Pacitan, sebuah kota kecil di ujung barat Jawa Timur. Sebagai satu-satunya anggota komunitas yang berasal dari Jawa Timur, gadis itu dipaksa menjadi tour leader. Saat itu Gunung Kelud masih sangat indah. Hijau lebat hutan perdu yang mengelilinginya. Anak gunung kelud hasil erupsi di tahun 2007 menjulang kokoh di tengah kawah. Menjadikan Kelud semakin istimewa. Satu-satunya gunung di dunia dengan anak gunung yang menjulang di tengah kawah.

Sesaat setelah letusan dua hari yang lalu, yang tersisa hanyalah lahan mati berwarna abu-bau. Sejauh mata memandang hanya pasir, abu dan bebatuan yang dimuntahkan oleh kawah Kelud. Tak terasa air mata gadis itu menetes, mengingat apa yang dilihatnya dari layar kaca semalam. Anak gunung Kelud yang kokoh itu lenyap berganti dengan kawah yang semakin luas. Jika Tuhan sudah berkehendak, tidak ada seorang makhlukpun yang mampu menolaknya.

“Ada urusan apa ke Surabaya?”
Ujar si Bapak disampingnya lagi. Lagi-lagi membuyarkan lamunannya. Mengembalikan kesadarannya kembali dari kenangan tentang Gunung Kelud.

“Oh..saya tinggal di Surabaya pak..” jawabnya buru-buru sambil menyusut tetesan air mata dengan ujung jarinya.

“Surabaya mana?”

“Dharmahusada. Bapak tinggal di Surabaya juga?”

“Oh nggak mbak, saya malang. Anak saya yang kuliah di Surabaya. Ini saya mau nengok dia sebelum pulang ke Malang..”

Kemudian bapak itu banyak bercerita tentang anak bungsunya yang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Anak bungsunya perempuan. Masih 18 tahun dan lebih memilih kuliah di Surabaya daripada di Malang. Alasannya belajar mandiri. Tidak mau bergantung pada orang tuanya terus. Padahal sang ayah dan ibu yang sudah beranjak tua lebih suka anaknya tidak mengambil tempat pendidikan yang jauh, agar di rumah tidak sepi. Setelah 2 kakak lelakinya bekerja dan berkeluarga tinggal si bungsu yang menjadi harapan orang tuanya. Namun apa daya, si bungsu yang dahulu manja ternyata sudah mulai dewasa, dan lebih memilih mengikuti jejak kakak-kakaknya menjadi enginer.
Cerita bapak itu sedikit banyak membuatnya teringat pada ibunya. Gadis itu semakin merasa bersalah dan semakin merindukan ibunya. Sudah hampir sebulan ini gadis itu tidak pulang. Beberapa pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan membuatnya belum bisa memeluk erat perempuan yang selalu dicintainya itu. Meskipun setiap hari mereka berkomunikasi melalui telepon, tetep saja tidak bisa menggantikan kehadiran langsung seseorang yang dicintai.

“Wah..sudah ngobrol kesana kemari malah belum kenalan..maafkan ya mbak..” ujar bapak itu ramah.

“Oiya..saya juga lupa pak..keasyikan mendengarkan cerita bapak..”ujarnya berbasa-basi

“Saya Dirmanto. Biasanya dipanggil Dirman..” ujarnya mengulurkan tangan.

“Renata..” disambutnya uluran tangan pak Dirman dengan sopan.

Bersamaan dengan itu diberitahukan kepada para penumpang bahwa pesawat akan segera landing di bandara Ngurah Rai Denpasar. Semua penumpang harap mengenakan safety belt nya kembali. Gadis itu lega, tidak ada masalah berarti saat pesawat menginjakkan rodanya di runway bandara. Hanya ada hentakan sedikit yang tidak terlalu berbahaya. Bibirnya mengucap hamdallah.

“Mbak Renata, kalau nanti main ke Malang, sempatkan main ke rumah saya ya. Saya tunggu lho..” ujar pak Dirman ramah. Sesaat yang lalu pak Dirman sempat memberikan kartu namanya kepada Renata.

“inggih pak, insyaaAllah kalau ada kesempatan saya mampir ndalem pak Dirman..” jawab Renata sopan.

Mereka berpisah saat mengurus bagasi. Renata masih menunggu kopernya yang entah bagaimana bisa tertukar dengan milik seorang bule. Untungnya tidak memerlukan waktu lama untuk mengurusnya. 

pict from here
Tepat pukul 11.00 WITA Renata melangkahkan kaki menuju restoran di bandara itu. Kemudian di sebuah restoran itu dipesannya seporsi spaghetti carbonara. Rasa laparnya sudah tidak tertahankan lagi. Sambil mengunyah makanannya dinyalakannya Samsung s4 yang sedari tadi ada di genggamannya. Ada 2 missedcall dari Ben, 4 pesan di bbm. Sebuah pesan dibacanya dari MAMI.

Juanda ditutup, mami liat di tv.
Jadi gimana?     

Dipencetnya nomor telepon segera. Setelah dua kali nada tunggu, dijawablah panggilan itu.

“Hallo..assalamu alaikum..”
 “waalaikumsalam mi..”
“kamu dimana nak?”
“lala di Denpasar mi, pesawatnya ngga bisa landing di Juanda”
“trus gimana? Jadi pulang Surabaya ngga?”
“kayaknya ngga bisa hari ini mi, gimana dong? Kalo misalkan besok udah memungkinkan, lala langsung pulang besuk”
“lho..katanya kamu lusa ada pemotretan lagi di Uluwatu kan? Ben kemarin yang ngasih tau mami..”
“hhmm…iya sih mi..”
“yauda, ngga usah balik ke Surabaya dulu. Kasian kalau kamu bolak balik Surabaya-Denpasar..”
“mami gapapa?”
“ngga papa lah..tapi jangan lupa titipan mami ya? “
“okee..pie susu sama kain Bali warna kuning kan?”
“siipp…”
“oke deh mi.. lala lanjutin makan dulu ya..assalamu alaikum..”
“iya..ati-ati ya nak.. waalaikumsalam..”

Klik.
Renata kembali melanjutkan menekuni makanannya yang sudah mulai dingin. Sambil sesekali menenggak milo coklat yang sudah dipesannya.
Bibip…
Bibip….
Bibiip…

Layar handphone nya kembali berkedip. Ada bbm masuk dari.. BEN!

+ Nek…ye uda di Dps ye?
+ G langsung nelpon eike siiy?
+ ye dimana skg?

Sejenak dihentikan kunyahannya. Darimana Ben tau Renata sudah di Denpasar? Mami?
-               -        Drmn lu tau gw di dps?
+     mami ye dong, eike barusan di bbm mami ye..
-               -    Gw mau keliling2 dps dulu. Sendirian. Bsk mlm jm 8 br lu blh nyariin gw..
+     tapi nek..??
-               -    TITIK!!!!

Renata tersenyum puas. Ben selalu begitu. Berlebihan. Pemotretan mereka baru akan dimulai lusa siang. Tapi Ben selalu saja menginterupsi dengan hal-hal yang sebenarnya sudah mereka sepakati dari awal. Dan renata tidak suka. Sebenarnya itu hanyalah alas an Ben saja, agar mereka bisa sering-sering pergi bersama. Ben memang tidak punya banyak teman. Tidak banyak orang bisa menerima kepribadiannya sebagai lelaki yang kemayu. Dan dari yang tidak banyak itu, salah satunya adalah Renata. Bukannya Renata tidak ingin menemani Ben. Hanya saja saat ini Renata ingin sendiri.

Tidak lama setelah makanan itu dimakannya sampai licin tandas, Renata mendorong koper warna merah miliknya menuju pool taksi bandara. Bandara Ngurah Rai yang baru jauh lebih bagus dan sialnya jauh lebih luas. Membuatnya sedikit kelelahan berjalan dengan heels 10 cm yang dipakainya sejak dari Makassar tadi pagi.

Setelah menemukan taksi bandara yang dimaui, Renata segera menghempaskan badannya pada jok mobil sedan itu.
“Legian pak..” ujarnya pendek.
“Baik Non..” jawab sopir taksi sopan.

Tiba-tiba keluar ide isengnya untuk melewati jalan tol yang melewati laut di Bali. Jalan tol yang konon adalah jalan tol terpanjang dan satu-satunya jalan tol di Indonesia yang dibangun diatas laut.

“Pak, bisa tolong lewat jalan tol yang Bali tol yang baru lewat laut itu?”
“Mmm..bisa sih non..tapi memutar..”
“Gapapa pak..belum pernah nyoba..” ujar Renata sambil nyengir menahan malu.
“Baik non..” jawab sopir taksi itu sambil tersenyum sopan.



Sepanjang jalan Renata menikmati suasana Bali yang panas. Namun entah mengapa, Bali selalu indah. Patung-patung yang bertebaran dengan kain kotak-kotak hitam khas Bali selalu membuatnya rindu. Tidak lama kemudian sampailah taksi yang ditumpanginya di gerbang tol yang diingini Renata. Indahnyaa… benar-benar seindah bayangan Renata. Ambooiii… seperti tidak berada di Indonesia..hahaha.. berlebihan.
Beberapa kali renata mengabadikan pemandangan yang mereka lewati dengan kamera handphone nya. Sopir taksi yang sedari tadi melihatnya diam-diam hanya tersenyum geli melihat penumpangnya yang cantik itu kegirangan sambil sesekali memekik senang mengambil gambar jalan tol yang dilewatinya.
“Cantik-cantik ndeso…” mungkin itu yang ada di pikiran sopir taksi itu. Hahahha.

Taksi yang ditumpangi Renata perlahan menuju kawasan legian. Kebiasaan Renata, setiap ke Bali, selalu memilih menginap di seputaran Legian. Aku suka jalan-jalan di Kuta. Selalu itu jawabannya jika ada yang bertanya kenapa.
“Legian dimana non?” Tanya sopir taksi itu lagi.
“Fave hotel pak..” jawab Renata pendek.                                                     

Taksi itu menepi tepat didepan Fave hotel. Sebuah hotel backpacker yang dipilihnya sesaat sebelum meninggalkan bandara tadi. Di hotel yang bergaya minimalis ini, Renata sudah membooking sebuah kamar di lantai dasar.

pict from here

Setelah membayar taksinya, renata segera membawa koper mungilnya menuju loby hotel kecil itu. Setelah mengurus beberapa prosedur dan membayar tagihan dimuka hotel yang dipesannya Renata segera meraih kunci kamar 107 nya.

“Selamat beristirahat mba Renata..” ujar resepsionis cantik yang rambutnya disanggul dibelakang leher itu ramah.
“Terima kasih..” jawab Renata tidak kalah ramah.

Kemudian digeretnya koper merahnya menuju kamar yang sudah dipesannya yang terletak tepat didepan kolam renang. Dibukanya pintu kamar mungil yang ornamennya mayoritas berwarna merah. Kalau Ben tahu Renata menginap di hotel ini, Ben pasti menyeretnya pindah ke hotel yang lain.
Setelah meletakkan kopernya, Renata segera menuju kamar mandi, membersihkan diri. Setengah jam Renata menghabiskan waktunya menikmati hangatnya air pancuran dari shower kamarnya. Arloji yang terletak di atas meja menunjukkan jam 14.00 WITA saat Renata keluar dari kamar mandi. Diambilnya mukena di atas ranjang dan segera menunaikan sholat dhuhur.

Setelah sholat, Renata memandang dirinya didepan cermin, yang memang kamar itu memiliki banyak cermin yang besar. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan ikatan kuncir kuda. Dirapikannya kaos putih dan celana bahan kakhi selutut yang dipakainya. Renata merebahkan badannya di ranjang, meraih remote tivi. Pencetan jarinya berhenti pada channel tivi kabel yang menayangkan pemilihan World Top Model Competition. Tidak sampai setengah jam kemudian, Renata sudah tertidur nyenyak.

No comments:

Post a Comment