Tuesday, 11 August 2009

BUKAN SEKEDAR KATA

Dengan malas kututup koran yang sedari tadi kubaca. Pengumuman hasil SNMPTN 2009, namaku tertera di salah satu kolom di Universitas Airlangga Surabaya, aku belum tahu di fakultas apa. Tapi menurut teman-teman, di fakultas hukum. Mereka heboh sekali memberi selamat, tapi aku biasa aja. Bukan hal yang perlu dirayakan.
”Lintang....ayo turun, cepat sarapan, nanti kamu terlambat!” Suara mama.
”Iya Ma..!” jawabku malas.
“Kamu hari ini daftar ulang nggak usah
bawa mobil aja ya!” ujar mama begitu aku menghadapi meja makan. “Mobilmu dipake mama ke rumah Bude Ami” lanjutnya.
“Trus, aku gimana?” tanyaku kaget, merengut. ”Anterin ya Mas..!” aku merajuk pada kakakku.
”Nggak bisa, aku janji ketemu dosen pagi ini. Naik taksi aja, tuch tinggal order” tukas Mas Bagus, kakakku. Aku tambah manyun, kok nggak ada yang mendukung.
”Papa??” Masih dengan nada merajuk.
”Nggak bisa sayang, Papa ada operasi. Naik taksi aja lah.. Kan deket, paling cuma 15 menitan dari sini”, lanjut papa.
”Huh, gitu aja nggak ada yang mau nganterin, sebelll....!!”
Aku benar-benar kesal. Kutinggalkan sisa makannanku. Aku benar-benar kesal.
”Lintang..!!” teriak mama.
”Sudah, biarkan saja. Kebiasaan, jadi manja nanti...” samar-samar kudengar suara papa.
Aku berlari kedepan, memanggil taksi yang kebetulan lewat. Aku tidak pamit pada mereka. Aku kesal.
----------------------------------------*****---------------------------------------
Entah kenapa akhir-akhir ini keluargaku seperti acuh tak acuh padaku. Mama yang biasanya super sayang jadi sok nggak peduli. Papa, yang dulu meski sesibuk apapun selalu bersedia jadi teman maen play station, sekarang juga lebih mementingkan pasiennya. Apalagi Mas Bagus! Sejak jadi ketua BEM, dia jarang banget ketemu sama aku. Padahal kita serumah. Dia pulang aku udah tidur, dia berangkat aku belum bangun. Rumah udah kayak terminal aja. Cuma buat mampir mandi sama tidur. Huh, aku tambah sebel!
”Mbak, mau turun mana?” ujar bapak taksi menyadarkanku dari lamunan.
”Eh, apa pak?Iya, turun auditorium” jawabku gelagapan.
”Sudah sampe mbak, taksinya nggak boleh masuk Auditorium, sampe sini aja”
”makasih pak”
Aku melangkahkan kaki menuju tempat pendaftaran ulang. Busyet..!!Rame banget. Sampe ngantri-ngantri gitu. Aku bingung. Kayaknya perlu nanya-nanya dulu dech, daripada salah jalur. Iya kan!?
“Permisi mbak, tempat daftar ulang SNMPTN disini kan?” tanyaku pada seorang mbak-mbak dengan jaket almamater biru tua. Mahasiswa Unair. Panitia Advokasi Mahasiswa Baru BEM UNAIR 2009. Begitu tertera di ID Card di gantungan lehernya.
“Iya dek, benar sekali. Sudah bayar uang pendaftaran ulangnya?”
Aku mengangguk.
”Bukti pendaftarannya ditukarkan sama formulir dek, di loket A. Setelah itu formulirnya di isi. Baru dikumpulkan.” terangnya panjang lebar.
”Kalau misalkan nanti pas ngisi formulir ada yang kurang jelas bisa ditanyakan kesini lagi kok dek” lanjut teman si mbak, kali ini mas-mas, alias cowok.
”Oke, makasih ya mbak, mas” jawabku tersenyum. Sekilas kulirik ada seorang maba juga, keliatan dari tampang bingung dan gak jelas nya, disitu. Mungkin sedang kebingungan mengisi formulir. Entahlah.
Aku bergegas, kalau keburu siang bisa ketinggalan kumpul-kumpul sama temen-temen SMA nanti sore. Setelah menukarkan formulir, aku kembali ke posko advokasi yang tadi.
”Mas, boleh numpang ngisi di sini nggak?” tanyaku.
”Silakan..”ujarnya ramah. ”Adeknya ketrima di fakultas apa?”
”Hukum mas”
”Wah,..selamat ya. Kalau saya di FE, tetangganya Hukum”
“Namanya Lintang Ayu Pambayuningtyas ya? Bagus sekali”
“Iya mas, terimakasih. Mas nya?”
“Saya Faris, Ahmad Faris”
“Ooo…“
Percakapan kami terus berlanjut untuk beberapa saat, sambil mengisi isian formulir dan sesekali pertanyaanku tentang beberapa hal yang sedikit membingungkan. Mas Faris orangnya lucu, ngocol dan gampang akrab sama orang ternyata. Dia banyak berkisah tentang OSPEK kampus yang ternyata tidak semengerikan bayanganku. Juga tentang asyiknya kuliah sambil berorganisasi. Kalau sudah lulus, bukan cuma jadi Sarjana biasa, tapi Sarjana plus-plus, gitu promosinya. Beuh..pantes Mas Bagus sampe begitu. Overdosis kayaknya masku itu.
Btw, Mbak yang tadi kulihat pertama sudah tidak ada. Juga anak perempuan seusiaku yang kebingungan itu. Mungkin sudah pulang, pikirku. Cepet banget. Padahal aku juga pengen kenalan sama dia. Siapa tahu kami sefakultas...
”Eh Ris, kasian banget yang tadi ya?!” tiba-tiba suara seorang lagi memecah keheningan sesaat. Kayaknya teman Mas Faris, sesama penghuni BEM.
”Iya, padahal duitnya mau dipake buat daftar ulang. Trus sekarang anaknya kemana?” tanya Mas Faris.
”Dianterin Dini ke rektorat, ketemu sama Pak Nasih. Minta penangguhan pembayaran.”
”Dari luar kota lagi, rumahnya jauh lho. Boyolali”
”Semoga pengajuannya diterima ya”
”Amin.”
”SPP belum naik aja, udah banyak yang nggak mampu. Apalagi tahun depan ya kalau jadi SPP dinaikkan..”
Tanpa sengaja aku mendengarkan pembicaraan dua makhluk didepanku ini. Awalnya aku bingung apa yang mereka bahas. Namun lama-kelamaan aku paham. Pembicaraan itu berkutat seputar anak perempuan yang tadi duduk di kursiku ini. Kasian dia. Uang untuk biaya daftar ulang hari ini dicopet seseorang di angkot. Sepertinya dia dari keluarga yang sangat sederhana, sehingga tidak mungkin dapat mengganti uang sejumlah itu dalam waktu singkat.
Sambil mengumpulkan berkas-berkas isian, pikiranku terus melayang pada anak perempuan itu. Pantes tadi dia terlihat begitu kebingungan trus wajahnya kayak mau nangis gitu.
Tiba-tiba aku ingat kejadian tadi pagi. Aku merasa begitu sangat jauh lebih beruntung dibandingkan anak itu. Selama 18 tahun hidupku, rasanya aku belum pernah mengalami kesulitan yang berarti. Alhamdulilah kedua orang tuaku masih sanggup membiayai ku sampai sekarang. Aku terlalu egois dan menuntut. Ternyata ada orang-orang yang kurang beruntung tempat aku seharusnya berkaca. Bukan terus menuntut. Jadi pengen nangis.
”Mama, papa, mas Bagus, maafin Lintang ya...Lintang sudah sering banget nyusahin kalian...” teriakan hatiku yang paling dalam.
Aku jadi pengen nolongin anak itu. Tapi gimana ya!?
”Pak, kira-kira ATM terdekat dari sini dimana ya?” tanyaku pada satpam kampus yang baju seragamnya mirip anggota Paspampres.
”Itu mbak, di depan kampus FST ada ATM BNI” Jawabnya.
”Terimakasih pak”
Aku tersenyum puas dengan segepok uang tunai yang barusan kuambil dari ATM. Bergegas kumasukkan kedalam tas ranselku, dan setengah berlari menuju Auditorium kembali.
KOTAK DUM. Beasiswa Dari dan Untuk Mahasiswa. Beasiswa ini khusus digalang oleh BEM UNAIR yang mengkoordinir sumbangan mahasiswa yang mampu untuk membantu teman-temannya mahasiswa yang kurang mampu. Beasiswa DUM bertujuan agar sesama mahasiswa memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan peduli pada kondisi teman-temannya sesama mahasiswa. Begitu kurang lebih penjelasan dari Mas Faris tadi.
Ya! Ini adalah solusinya. Semua uang di tabunganku ludes. Bukan, bukan untuk membeli BlackBerry seri terbaru yang sudah lama ku incar itu. Semuanya berpindah tempat pada kotak cokelat dekil ini.
Aku tersenyum puas, bahagia. Sepertinya kekesalanku tadi pagi sudah terbayar lunas. Bahkan aku bisa tersenyum lepas. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa bangga pada diriku. Terimakasih Ya Allah, terimakasih Mas Faris, Mbak Dini, juga anak perempuan itu. Terimakasih, kalian sudah mengajarkanku cara bersyukur.
Aku ingin segera pulang dan berteriak pada mama.
“Mama........Lintang bahagia...........!!”


NB: Berharap ada Lintang-Lintang lain yang ikhlas menyumbangkan 10 jutanya buat nutup biaya PPKMB.
Hehehe..
^_^ V

2 comments:

  1. iki crita nyata atu khayalan..

    nama panitia advokasinya kok familiar yah..
    hmm.. sepertinya ada yg meniru disini.. fufufu..

    ReplyDelete